BROWNIS (NGOBROL WITH NISAA’) FOSMI FH UNS : MAKSIAT DI BULAN RAMADHAN, ULAH SIAPA ?

MAKSIAT DI BULAN RAMADHAN, ULAH SIAPA ?

BROWNIS (NGOBROL WITH NISAA’) FOSMI FH UNS

Oleh Luthfiyah Trini Hastuti, S. H, M. H

Fakultas Hukum, 24 Mei 2018

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda

Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

Dari Hadits diatas, Lantas mengapa maksiat tetap seenaknya bisa kita lakukan ? ada 3 tafsiran mengenai hadist tersebut, yakni :

  1. Redaksi hadist tersebut adalah sesuatu yang bersifat hakiki. Maksudnya bahwa setan memang benar dibelenggu secara keseluruhan, apabila manusia melakuan kemaksiatan itu semata2 manusia tersebut menandakan adanya kelemahan iman, ia tak kuasa untuk menjaga hawa nafsunya.

Padahal seperti kita ketahui bulan Ramadhan adalah bulan penuh dengan keberkahan, dimana semua kondisi keimanan kita dikuatkan dari awal Ramadhan. Kadar keimanan yang kuat membuat seseorang bertahan pada awal ramadhan, sebagai contoh riilnya pada Bulan Ramadhan orang-orang berbondong untuk mendapatkan shaff paling depan, orang-orang tak merasa lelah meski harus membaca qur’an berjuz-juz.

Manusia tidak mampu menjaga keimanan tersebut hingga akhir ramadhan, tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga tanpa bisikan setan pun, dengan mudahnya manusia melakukan kemaksiatan.

 

  1. Maknaa setan dibelenggu tidak secara keseluruhan raga-nya, bisa jadi setan diiatnya hanya lehernya saja, tangan dan kaki tetap bisa berkeliaran. Sehingga setan tetap bisa mempengaruhi manusia tetapi tidak sebebas di luar bulan ramadhan.

 

  1. Setan dibelenggu yang dimaksud hanya makna kiasan. Bahwa dengan kebaikan yang ada dibulan ramadhan ini pintu neraka ditutup, surga dibuka karena kuatnya keiman manusia, sehingga setan tidak punya celah untuk menggoda manusia.

 

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Faktor yang paling mendominasi adalah LEMAHNYA TINGKAT KEIMANAN, Mulai sekarang janganlah kita untuk menyalahkan setan lagi.

Manusia yang menjaga hawa nafsunya bisa lebih mulia dari malaikat. Sedangkan manusia yang tidak bisa menjaga hawa nafsunya lebih hina dari hewan melata.

 

Lantas Bagaimana cara menjaga keimanan agar tetap baik ?

Yang dapat kita lakukan perbanyak beribadah, mendekatkan diri pada Allah, apalagi saat ini bulan Ramadhan. Serta menjaga selalu kontinuitas ibadah hingga setelah raamdhan.

 

Selain itu, pada bulan Ramadhan Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang melaksanakan puasa dengan keimanan dan mengharap ridho Allah semata. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan syaikhoni (Bukhori dan Muslim) berikut:

 عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غُفر له ما تقدم من ذنبه.  (رواه الشيخان)

Artinya:

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Nabi saw bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan berharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun ‘alaih : Al Bukhari No. 38 dan Muslim No. 760).

 

Ramadhan merupakan bulan sebagai ajang kita untuk mengasah keimanan, apabila kita tidak bisa mengasah keimanan kita dibulan ramadhan, lantas  bagaimana bisa meningkatkan iman dibulan lain ?

Leave a Comment