Kajian Hukum Islam “Prespektif Hukum Islam dan Hukum Nasional terhadap Pernikahan Dini’’

Senin (30/04/2018) bertempat di Gedung IKA lantai 3 Fakultas Hukum  UNS telah dilaksanakan KHI dengan tema Perspektif Hukum Islam dan Hukum Nasional Terhadap Pernikahan Dini yang dihadiri oleh pengurus FOSMI dan segenap mahasiswa yang ada di UNS. Pembicara pada kali ini yaitu Anjar Sri Ciptorukmini N.,S.H.,M.H dan Ust. Badarudin Muhammad Khadam,S.PDI.,M.PD dengan  pembawa Acara kita M Hufron.

Wacana yang menganggap kompilasi hukum islam menjadi hukum peradilan agama yang materiil, tapi sampai sekarang belum berhasil karena banyak pendapat yang lebih menginginkan unifikasi yang ada dalam Undang-Undang perkawinan dilaksanakan serta tetap diakui dan dihargai. Jika KHI menjadi Undang-undang peradilan agama yang materiil, maka akan terpisah hukum keluarganya tidak ada unifikasinya lagi. Sebaiknya semuanya secara komprehensif wajib kita ikuti. Dengan adanya kasus-kasus posisi tentang pernikahan dini di Sulawesi antara anak perempuan berumur 14 tahun dan anak laki-laki berumur 15 tahun dimana mereka sudah putus sekolah menengah pertama dan sudah bekerja. Kondisi tersebut dalam masyarakat tidak dilawan karena disana sudah biasa. Penyamaan persepsi tentang pernikahan dini,yaitu :

  1. Sebuah bentuk perikatan atau pernikahan yang salah satu atau pasangan berumur dibawah 19 tahun atau sedang menempuh pendidikan SMA
  2. Pernikahan yang dilakukan oleh muda mudi dibawah 16 tahun
  3. Pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang umurnya masih dibawah usia pernikahan yang ditentukan di dalam Undang-undang perkawinan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini dilakukan  dibawah umur minimal menikah menurut UU perkawinan dimana laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Selain itu, pernikahan dini berbeda dengan pernikahan muda, dimana pernikahan muda dilakukan oleh mereka yang masih menempuh pendidikan namun umurnya sudah memenuhi usia menikah.

Menurut MUI, pernikahan jangan hanya dilihat dari aspek sosial, aspek kesehatan namun juga harus dilihat dari nilai agamanya. Factor pendorong pernikahan dini antara lain, Faktor ekonomi, Faktor pendidikan, Faktor orang tua yang takut pergaulan anaknya, Faktor adat istiadat karena tidak mau anaknya jadi perawan tua, Faktor agama. Dampak negative pernikahan dini yaitu terjadinya pertengkaran karena mentalnya belum matang.

  1. Pada dasarnya, Islam tidak memberikan batasan usia pernikahan secara definitive. Usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat menerima hak.
  2. Pernikahan usia dini hukumnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika mengakibatkan mudharat.
  3. Kedewasaan usia merupakan salah satu indikator bagi tercapainya tujuan pernikahan,yaitu kemashlahatan hidup rumah tangga dan bermasyarakat serta jaminan keamanan bagi kehamilan.
  4. Guna merealisasikan kemaslahatan,ketentuan perkawinan dikembalikan pada standarisasi usia sebgaimana ditetapkan dalam UU Nomor 1 tahun 1974 sebagai pedoman.

Leave a Comment